Tanah Menangis | Kelebat Loreng - Puisi-Puisi Sekar Hartono
Tanah Menangis
Oleh: Sekar Hartono
Tentang air mata yang tak pernah letih mengembara
dari luka ke luka.
Ia mengalir menyusuri perih yang tak selesai disebut sejarah.
Katanya, tanahku sepotong surga yang tersesat ke bumi.
Namun kulihat hutan memeluk asap, daun-daun berguncang bukan karena angin, melainkan takut.
Tanah ini bukan lagi hamparan hijau, melainkan bara yang dipelihara kebencian.
Api tak juga belajar padam.
Genderang meledak lebih nyaring daripada nyanyian burung cenderawasih.
Lalu sunyi mengembang di setiap celah lembah.
Aku menengadah.
Masih adakah sekeping surga yang tersisa di tanahku?
Purwokerto, 26 Juni 2026
__
Kelebat Loreng
Oleh: Sekar Hartono
Di antara lembah dingin, kabut menyelimuti punggung gunung.
Pepohonan menahan napasnya sendiri, sementara belantara menelan jejak langkah.
Mesiu menggerus siang.
Wajah-wajah berlumur hijau dan hitam menyimpan rindu di balik tatapan yang terjaga.
Waktu berjalan dengan langkah paling panjang: menunggu.
Di kota, lampu-lampu menyala mengiringi gelak yang tak tahu
di sini malam selalu mendengar letusan.
Namun langkah itu tak pernah belajar surut.
Sebab di dada mereka menyala sebuah suluh yang terus dijaga
bahkan ketika cahaya hampir padam.
Purwokerto, 26 Juni 2026
Sumber Ilustrasi:
___
Bionarasi:
Sekar Hartono lahir di Jakarta dan kini menetap di kota kecil Purwokerto. Kegemarannya menulis bermula dari cerita pendek, yang kemudian membawanya untuk belajar mengekspresikan diri melalui puisi. Dalam proses itu, ia bergabung dengan komunitas Competer sebagai ruang untuk bertumbuh dan berbagi makna. Menulis pun menjadi jalan sunyi untuk menebarkan kebaikan ke semesta. IG: @yanich1394
.jpg)
Posting Komentar untuk "Tanah Menangis | Kelebat Loreng - Puisi-Puisi Sekar Hartono"